Da’i dan Popularitas

da'i dan popularitas

Tujuan utama seorang muslim dalam beramal adalah untuk mencari keridhaan Allah, bukan untuk menggapai popularitas dan ketenaran.

Allah ta’ala berfirman,

“تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوّاً فِي الْأَرْضِ وَلا فَسَاداً وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ”.

Artinya: “Negeri akhirat itu kami adakan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri serta tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa”. QS. Al-Qashash: 83.[1]

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

“إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ”.
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, kaya hati[2] dan yang tidak mencari ketenaran[3]”.[4]

Ayyûb as-Sikhtiyâni (w. 131 H) menjelaskan, “Seorang hamba yang mencintai ketenaran, tidak dianggap jujur (kepada Allah) sedikitpun”.[5]

Imam Syafi’i (w. 204 H) berkata, “Aku senantiasa berangan-angan agar para manusia mempelajari ilmu yang kumiliki ini, namun mereka tidak menisbatkan satu huruf pun dari ilmu tersebut kepadaku!”.[6]

Namun, seandainya seseorang telah berusaha selalu ikhlas dalam berdakwah, dan dia tidak bertujuan untuk mengejar popularitas, tapi barangkali karena keilmuannya yang mumpuni, atau kepiawaiannya dalam berorasi; lantas dia menjadi tenar, apakah dalam kondisi seperti ini dia tetap tercela? Jawabannya: tidak! Karena bukan dia sendiri yang mencari ketenaran tersebut, namun popularitas itu datang dengan sendirinya tanpa ada keinginan dari dia.[7]

Ibnu Qudâmah (w. 620 H) menjelaskan, “Karakter yang tercela adalah: mengejar popularitas. Adapun jika popularitas tersebut ada lantaran karunia dari Allah, tanpa dikejar seorang hamba, maka hal itu tidak tercela. Hanya saja hal tersebut bisa membuat hamba yang lemah imannya terfitnah”.[8]

Oleh karena itu, kita dapatkan para nabi, para sahabat nabi shallallahu’alaihiwasallam, para ulama besar, ketenaran mereka merambah seluruh penjuru bumi. Tapi, apakah hal itu dikarenakan mereka adalah tipe manusia yang gemar berburu popularitas, meskipun dengan cara mengorbankan idealisme? Atau hal itu karunia dari Allah, lantaran mereka senantiasa taat kepada-Nya? Tentu saja yang kedua!

Dan Allah memiliki hikmah ilahiyah di balik pengaruniaan ketenaran kepada mereka. Di antaranya: dengan popularitas yang dimiliki para orang salih di atas, banyak manusia yang akan meneladani mereka dalam ketaatan kepada Allah, sehingga tersebarlah keimanan di muka bumi. Lain halnya jika yang tenar hanya orang-orang yang fasik atau tokoh-tokoh ahlul bid’ah; akibatnya mereka akan dijadikan idola yang dipuja-puja dan ditiru seluruh gerak-geriknya, sebagaimana yang terjadi di akhir zaman ini. Hanya kepada Allah sajalah kita mengadu…

Para ulama membawakan suatu perumpamaan, “Orang-orang yang lemah keimanannya namun tenar, ibarat seseorang yang tidak mahir berenang sedang dalam keadaan tenggelam dan di sekelilingnya banyak orang-orang yang sedang tenggelam juga. Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya posisi dia tidak diketahui oleh mereka; karena jika mereka berpegangan dengan tubuhnya, dia tidak akan kuat menahan beban, lalu binasa bersama mereka.

Namun orang yang bertubuh kuat dan pintar berenang, sebaiknya orang-orang yang tenggelam di sekelilingnya mengetahui posisinya. Supaya mereka bisa berpegangan dengan tubuhnya, lalu ia menyelamatkan mereka dan mendapatkan pahala dari Allah”.[9]

Andaikan kita termasuk golongan yang kuat keimanannya, kemudian dikaruniai Allah ketenaran, maka seyogyanya kita tetap waspada akan tipu daya setan dan senantiasa menganggap bahwa karunia tersebut adalah ujian dari Allah.

Imam Ahmad bin Hambal (w. 241 H) berkata, “Aku telah diuji oleh Allah dengan ketenaran!”.[10]

Ya, para ulama rabbaniyyin menganggap popularitas sebagai ujian berat! Tidak seperti sebagian kita!

Pada suatu hari, tatkala sedang berada di dalam mobilnya, Syaikh al-Albani dilihat oleh seseorang. Segera orang tadi dengan penuh semangat mendatangi syaikh dan berkata, “Engkaukah Syaikh al-Albani?!”. Tatkala ditanya seperti itu, syaikh menangis. Ketika ditanya mengapa menangis, beliau menjawab, “Seharusnya seorang hamba senantiasa bermujahadah, dan tidak terperdaya dengan ketenaran dirinya!”.[11]

Andaikan kita di posisi beliau, bagaimanakah kira-kira reaksi kita?

Jangan tinggalkan dakwah karena khawatir popularitas!

Sebagaimana kita tidak boleh meninggalkan jalan dakwah karena takut riya’, kita juga tidak boleh meninggalkannya karena khawatir terhadap popularitas. Yang benar: kita tetap berdakwah dan bermujahadah untuk memperbaiki niat, serta waspada dari tipu daya setan. Ibn al-Mubârak (w. 181 H) bercerita, bahwa suatu hari Sufyân ats-Tsauri (w. 161 H) berkirim surat padanya, yang berisikan, “Sebarkanlah ilmu dan waspadalah dari popularitas!”.[12]

Obat riya’ dan cinta popularitas[13]

Salah satu faktor terbesar dari sekian banyak faktor yang membantu seseorang untuk mengusir virus riya’ dan cinta popularitas dari hati adalah: memohon pertolongan kepada Allah sang penguasa segala sesuatu dalam hal ini, dengan penuh kesungguhan.
Dikisahkan bahwa seorang ulama salaf bertanya kepada muridnya, “Apa yang akan engkau lakukan jika setan datang menggodamu untuk berbuat maksiat?”. “Aku akan berusaha keras melawannya”, jawab si murid. “Jika dia datang lagi?”. “Aku akan kembali melawannya!”. “Jika ia datang lagi?”. “Aku akan terus melawannya!”. Maka sang guru berkomentar, “Jika demikan, perjalananmu akan amat panjang. Andaikan engkau melewati suatu tempat, tiba-tiba ada seekor anjing yang menggonggong dan menghalangi jalanmu, apa yang akan kau kerjakan?”. “Aku akan mengusir anjing tersebut dan berusaha keras menghalaunya!”, jawab si murid. Lantas sang guru berkata, “Jika demikan usahamu akan berat. Mengapa engkau tidak memanggil si empu anjing tadi dan minta tolong padanya? Niscaya energi yang engkau keluarkan tidak terlalu banyak”.[14]

Ya Allah, karuniakanlah keikhlasan pada setiap perkataan dan perbuatan kami…

Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, MA


[1]  Sebagian ahli tafsir berdalilkan dengan ayat di atas untuk menunjukkan tercelanya mencari popularitas. Lihat: Al-Bahr al-Madîd fî Tafsîr al-Qur’ân al-Majîd, karya Ibnu ‘Ujaibah (IV/456), cetakan yang ada dalam al-Maktabah asy-Syamilah.
[2]  Lihat: Syarh Shahih Muslim, karya an-Nawawi (XVIII/301), terbitan Beirut: Dar al-Ma’rifah, cet VI, th 1420/1999.
[3]  Lihat: Siyar A’lâm an-Nubalâ’ (I/119 -footnote).
[4] HR. Muslim (XVIII/300-301 no. 7358).
[5]  Musnad Ibn al-Ja’d (I/577 no. 1287), terbitan Kuwait: Maktabah al-Falah, cet I, th 1405/1985.
[6]  Al-Majmû’, karya an-Nawawi (I/30), terbitan Jedah: Maktabah al-Irsyad, tc, tt.
[7] Baca: Ar-Riyâ’ Dzammuhu wa Atsaruhu as-Sayyi’ fî al-Ummah karya Syaikh Salim al-Hilaly (hal. 67).
[8]  Mukhtashar Minhâj al-Qâshidîn, karya Imam Ibn Qudamah (hal. 270), terbitan ‘Ammân: Dar ‘Ammar, cet II, 1415/1994. Lihat pula: Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, karya Abu Hamid al-Ghazali (III/238), terbitan Beirut: Dar al-Fikr, tc, 1423/2003
[9] Lihat: Ibid.
[10] Manâqib al-Imam Ahmad, karya Ibn al-Jauzi (hal. 252), terbitan Mesir: Maktabah al-Khanji, cet I, 1399/1979.
[11] Al-Imâm al-Albâni, Durûs, Mawâqif wa ‘Ibar, karya Syaikh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad as-Sadhân (hal. 126), terbitan Riyadh: Dar at-Tauhid, cet I, 1429/2008.
[12] Hilyah al-Auliyâ’ karya Abu Nu’aim al-Ashbahani (VII/70), terbitan Mesir: Maktabah as-Sa’adah, cet I, th 1351.
[13] Semoga Allah memudahkan kami menyelesaikan penulisan makalah berjudul “Menggapai Beningnya Hati” dan menjadikannya bermanfaat bagi penulis serta para pembacanya, amien.
[14]  Lihat: Talbîs Iblîs, karya Ibn al-Jauzi (I/280) , terbitan Riyadh: Dar al-Wathan, cet I, 1423/2002.

 

Bali Mengaji adalah majelis taklim yang berusaha menyebarkan dakwah Ahlusunnah wal Jama’ah ke kaum muslimin khususnya di daerah Bali. Motto kami adalah “Menyebarkan Islam Sebagai Rahmat untuk Semesta”